Uniknya ke Pernikahan

Perkenalan pertama kami via HP sangat misterius, bahkan hingga saat ini tidak bisa terjawab siapa yang sesungguhnya lebih awal melakukan misscall.  Pertemuan pertama hingga ke pernikahan juga sangat unik.  Sepertinya ada skenario besar dari Yang Maha Kuasa atas kami untuk menjalani semua itu dengan ikhlas apa adanya saja.

Januari 2001, Murdayaso meminta berhenti bekerja dari Toko Tekstile untuk bisa ada banyak waktu mencari pacar.  Terlintaslah saat itu adalah menindaklanjuti plan untuk membentuk Forum Alumni Kesatuan Mahasiswa Hindu Indonesia (FA-KMHDI).  Dengan agenda tersebut, Murdayaso akan banyak berinteraksi dengan teman-teman & semoga ada jodoh bertemu pacar ya...  Saat sekolah hingga kuliah, Murdayaso punya komitmen untuk tidak pacaran & setelah tamat kuliah ternyata kondisi financial membuat tidak ada keberanian untuk memulai.  Setelah sedikit ada tabungan & ditambah bonus dari Bos yang punya toko textile, baru keberanian itu bangkit.

Maret 2001 ada Misscall masuk ke HP kami, Ngak inget tanggalnya berapa karena sungguh tidak menyangka akan berlanjut seru, he..he..  Sambil mengisi waktu, Murdayaso saat itu merintis usaha Jahitan Jas dengan sistem Delivery langsung ke nasabah.   Setiap ada telp masuk ataupun misscal dari No HP yang tidak dikenal maka itu adalah rejeki New Order.  Dengan penuh semangat murdayaso menghubungi No yang Misscall tsb.  Beberapa kali dihubungi, ternyata yang menjawab disana adalah seorang gadis yang mengaku tidak ada melakukan misscall, dan juga tidak saling mengenal.  Kami berada dalam komunitas yang berbeda, murdayaso dari komunitas mahasiswa hindu indonesia sementara tika berada dalam komunitas media bali.  Komunikasi Pertama kami akhirnya berhenti pada satu persamaan dimana murdayaso memiliki beberapa sahabat yang bekerja di media di tempat Tika bekerja (Berharap klo hendak mengetahui Murdayaso bisa kroscek ke ybs he..he..).

September 2001, Kongres pertama Alumni KMHDI dilaksanakan di Nusa Dua Bali.  Beberapa minggu sebelum acara, Murdayaso melakukan Komunikasi kedua via HP untuk mengundangnya hadir.  Singkat cerita, Tika datang pada acara kongres tsb dengan membawa salah satu teman yang juga murdayaso kenal.  Disitulah Pertemuan Pertama kami & tidak banyak cerita yang bisa kami lakukan, karena kesibukan murdayaso sebagai pimpinan sidang saat itu.  Usai acara Murdayaso melakukan Komunikasi Ketiga via HP untuk mengucapkan terima kasih atas kunjungannya & tidak ada komunikasi lainnya lagi saat itu, mengingat Tika juga datang bersama sahabat.

Desember 2001 Murdayaso ke Bali untuk mencari order & mengantar orderan beberapa jahitan jas dari anggota DPRD Bali.  Usai menyelesaikan pekerjaan saat itu, terpikir akan melakukan apa di acara malam tahun baru di bali ?  Komunikasi keempat akhirnya di lakukan untuk bisa bertemu di acara malam pergantian tahun dari 2001 ke 2002 dikuta bali.  Sayang saat itu kami tidak bisa bertemu di lokasi acara yang begitu luas & sesaknya pengunjung (sepertinya upaya yang dilakukan masih belum all-out saat itu).

Kamis 3 Januari 2002, Komunikasi kelima terjadi untuk membuat janji bertemu.  Pertemuan Kedua kami terlaksana disore hari di satu mall di tengah kota Denpasar & berlanjut hingga ke pantai Kuta.  Komunikasi panjang kami baru terjadi saat itu sepanjang malam hingga pagi hari di hamparan pasir pantai kuta.  Malam indah itu tidak mungkin terlupakan, seperti ada sesuatu yang mulai bertumbuh disitu  & komunikasi kami selanjutnya via HP mulai intensive.

Jumat 1 Februari 2002, Pertemuan Ketiga kami terlaksana di Dunkin simpang enam Denpasar & berlanjut ke beberapa tempat lainnya.  Saat itu Murdayaso ke bali untuk kembali mengantarkan Jas dan juga mengambil beberapa barang dagangan untuk dijual di Jakarta.  Komunikasi mendalam terjadi atas permasalahan yang sesungguhnya Tika hadapi saat itu atas rencana perkawinannya dengan seorang pacar yg dimulainya sejak SMA.  Namun beberapa tahun belakangan, ketidak cocokan semakin hari semakin terlihat & itu membuat Tika berat untuk melanjutkan.  Sementara pihak pacar & Ortu terus mempersiapkan rencana pernikahkan yang sudah semakin dekat.  

Sabtu 2 Februari 2002, Pertemuan keempat terjadi, Tika nampak semakin tertekan & karenanya hendak ikut jalan-jalan liburan bersama Murdayaso ke Jakarta.  Namun pihak keluarga tidak mengijinkan Tika berangkat alias meminta Tika untuk kembali ke rumah bersama keluarga dan calon suami.  Dilema sepanjang malam terjadi : mau lanjut ke Jakarta atau kembali ke rumah.  Dini hari pukul 03.30 akhirnya Murdayaso bisa mengajak Tika kembali pulang ke rumah.  Disitu Murdayaso bertemu semua anggota keluarga dan calon suami yang sudah sejak semalam menunggunya pulang.  Suasana tegang menyelimuti, namun Murdayaso tetap tenang dengan tulus mengantar Tika dan menitipkan kartu nama untuk bisa dihubungi oleh pihak keluarga kelak klo terjadi apa-apa.

Minggu 3 Februari 2015 Pagi hari itu, Murdayaso langsung berangkat menuju Jakarta & panggilan HP di alihkan ke salah satu sahabat di Jakarta.  Tiba di Jakarta, sahabat itu menceritakan semua update perkembangannya & melanjutkan konsultasi kebeberapa tokoh.

Kamis 7 Februari 2002, 3 hari sebelum rencana pernikahannya dengan si pacar itu dilaksanakan, Tika akhirnya memutuskan lari dari rumah dan berangkat menuju Jakarta.  Ada keajaiban terjadi hari itu sejak dini hari jam 03 hingga 10, dimana ada satu SMS dengan bahasa yang sama selalu terkirim hampir setiap 5 menit dari HP Tika.  Bersama Sahabat itu, Murdayaso mencoba menjelaskan dan mengendalikan setiap SMS yang masuk.  Seperti sikap yang kokoh, SMS yang sama itu terus saja terkirim.  Melihat kondisi itu, Murdayaso memutuskan untuk menerima ide Tika menuju Jakarta & itu artinya Murdayaso harus siap menikah dengan Tika (Bila tidak akan masuk dalam permasalahan hukum melarikan atau menyembunyikan anak orang lain).  Setelah Murdayaso melakukan kordinasi dgn para Sahabatnya di Jakarta & Konfirmasi dengan Sahabat Tika yang mengatur rencana di Bali, SMS yang sama itu ternyata masih terus terkirim.  Disitu Murdayaso baru sadar ternyata SMS yang sama itu adalah penggulangan dari operator.  Namun keputusan sudah di Ucapkan dan rencana sudah disiapkan.

Para sahabat mengatur semua detailnya termasuk siapa-siapa saja yang terlibat didalamnya, dari keberangkatan Bali menuju Surabaya via pesawat, Surabaya menuju Jakarta via kereta, namun harus transit di malang untuk menunggu waktu yang tepat agar bisa masuk jakarta minggu subuh.  Seorang sahabat dari Inteligent Negara melakukan backup antisipasi upaya calon suami & keluarga besar Tika.  Murdayaso harus bersembunyi di tempat-tempat yang aman di Jakarta, bahkan harus Pulang Pergi Bandung hanya untuk telp memberi kode area ke HP keluarga Tika bahwa Murdayaso ada di daerah Bandung.  Pihak keluarga besar Tika terus melakukan pengejaran hingga masuk ke rumah jabatan DPR-RI dimana Murdayaso menjadi anak tinggal saat itu.  Hal ini adalah Upaya untuk memancing Murdayaso keluar dari persembunyian & menggagalkan pernikahan baru yang direncanakannya.

Minggu 10 Februari 2002, Pertemuan kelima kami terjadi dalam suasana urgent persiapan pernikahan.  Jam 18.00, Pernikahan antara Murdayaso - Tika berlangsung sederhana & tertutup di Pura Taman Mini Indonesia dengan para saksi & undangan yang juga di hadiri dari beberapa pejabat penting di organisasi ke-Hinduan saat itu seperti : Parisadha, Prajaniti, Peradah & KMHDI.  Usai acara pernikahan agama ini, kami masih harus terus melakukan gerilya ketempat tempat yang aman sampai surat pernikahan dari Kantor Catatan Sipil itu terbit sah untuk kami.   Semua proses ada dalam perencanaan yang matang termasuk dari perjalanan, kelengkapan administrasi, tempat acara, waktu dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.  Proses Perkawinan yang sangat Unik penuh Inspirasi, semoga langgeng hingga akhir hayat.  Awignamastu...

---

reset reset decrease